KONSEP JUST IN TIME (JIT) PADA INVENTORY
(ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN
BAHAN BAKU
PT. TIPOTA INDONESIA)
Oleh :
I.
Gambaran Umum Perusahaan
PT. Tipota Indonesia didirikan
pada tahun 1992, Tipota Indonesia sudah beroperasi selama 14 tahun. Walaupun
pada dasarnya menurut perkembangan perusahaan berawal dari suatu usaha yang
berskala relatif kecil di daerah kelurahan Krapak Jepara, kemudiaan berturut –
turut pindah ke kelurahan Senenan Jepara dan kelurahan Krasak Jepara dan
terakhir berlokasi di desa Bandung Rejo Rt 03 Rw III Kecamatan Kalinyamatan
Kabupaten Jepara sebagai gudang I dan juga sebagai kantor pusat dan juga didesa
Lebuawu Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara sebagai gudang II.
PT. Tipota merupakan perusahaan yang berstatus Penanam
Modal Asing (PMA) yang didirikan oleh seorang berkewarganegaraan Denmark yaitu
Niki Nasr dan resmi secara hukum berdiri pada tanggal 05 Juli 2003, sesuai
dengan akta notaris Iranadi, SH No: 6 tanggal 07 Juli 2003.
PT. Tipota
merupakan satu dari sekian banyak perusahaan di Jepara yang bergerak dibidang
furniture. Dengan kapasitas container sebesar 15 container perbulan untuk
ukuran 40 foot. Tipota berusaha untuk mencapai standard produksi dengan
meningkatkan fasilitas produksi seperti ruang Oven, Milling, Heater dan
Finishing yang standard. Sehingga diharapkan dalam beberapa bulan kedepan bisa meningkatkan kapasitas
output yang dihasilkan sebesar 30 % dari kapasitas sekarang. Selain meubel dari
kayu, PT. Tipota juga memproduksi produk meubeller maupun asesoris yang
berbahan rotan, synthetic, kulit, aluminium dan stainless steel.
Sampai saat ini market share dari PT Tipota menjangkau
ke beberapa benua seperti:
1) Eropa yang merupakan pangsa pasar utama dan
meliputi Negara:
a) Denmark
d) Italia
b) Belanda e) Belanda
c) Spanyol
f) Spanyol
2) Asia
a) Arab c) Korea
b) Jepang d) Jordania
3) Amerika
a) USA
b) Mexico
4) Australia: Australia
5) Afrika: Egypt (Mesir)
Sampai saat ini PT. Tipota terus berusaha untuk mempertahankan market sharenya
dengan melakukan promosi melalui media pameran tahunan di berbagai kota besar
Eropa seperti Milano Fair, Valencia Fiera dan Singapore Expo.
Struktur
Organisasi
1) Nama Perusahaan : PT. TIPOTA
2) Alamat Kantor : Bandung Rejo Rt 03 Rw
III Kalinyamatan Jepara
3) Bidang Usaha : Production, Finishing
dan Furniture Exporter
4) Tahun berdiri : 2003
5) Jumlah Karyawan : 250 an orang
6) Kapasitas produksi : 15 container perbulan
7) Owner : Niki Nasr
8) Manager : Sulistiono
9) Personalia : Ali Muhtar, SE
II.
Masalah yang Dihadapi Perusahaan
PT. Tipota merupakan perusahaan yang bergerak dibidang
industri furniture, yang kegiatan utamanya adalah memproduksi mebel.
Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi furniture ini adalah
kayu jati dan dalam pelaksanaan proses produksinya bahan baku tersebut selalu
tersedia untuk kelancaran proses produksi. Oleh sebab itu perlu dilaksanakan
perencanaan dan pengendalian bahan baku. Perusahaan harus bisa mengelola
persediaan dengan baik agar dapat memiliki persediaan yang seoptimal mungkin
demi kelancaran operasi perusahaan dalam jumlah, waktu, mutu yang tepat serta
dengan biaya yang serendah rendahnya
Dalam
tulisan ini, penulis menemukan suatu permasalahan yang
sedang dialami oleh PT. Tipota yaitu persediaan bahan baku pada PT.Tipota belum
direncanakan dengan baik sehingga persediaan bahan baku yang diperusahaan
kurang optimal dan proses produksi tidak dapat berjalan dengan lancar. Hal ini
disebabkan karena kurangnya persediaan bahan baku yang ada digudang. Hal tersebut
terlihat pada saat PT.Tipota mendapatkan pesanan produk mebel, perusahaan
tersebut baru melakukan pembelian bahan baku sehingga apabila terjadi
keterlambatan datangnya bahan baku perusahaan tidak bisa melakukan proses
produksi
Sebelumnya juga pernah terjadi stock out, yaitu
pada PT. Tipota akan melakukan produksi yang membutuhkan bahan baku sebesar
940,21m3 tetapi
bahan baku yang tersedia hanya 845,23 m3 Disisi lain perusahaan juga
pernah terjadi kelebihan bahan baku, sehingga terjadi pemborosan modal kerja
yang tertananm dalam persediaan bahan baku tersebut. Ini terjadi pada saat
perusahaan melakukan pembeliaan sebanyak 1.110,43 m tetapi bahan baku yang
digunakan hanya sebanyak 1.100,11 m3. .
Pada sisi lain karena harga bahan baku yang terus naik, perusahaan juga berusaha
menimbun bahan baku dengan membeli bahan baku dalam jumlah yang cukup besar
untuk mendapatkan keuntungan membeli bahan baku dengan harga yang murah. Tetapi
terkadang perusahaan juga sering mengalami kekurangan bahan baku yang mengakibatkan
perusahaan tidak siapuntuk melayani permintaan konsumen sehingga pesanan akan
produk terpaksa ditolak oleh perusahaan.
Permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan ini adalah kurang baiknya perkiraan kebutuhan
produksi yang menyebabkan shortage
dan overstock, sehingga dibutuhkan
peramalan terhadap demand yang memperhatikan pola permintaan masa lalu disertai
dengan penggunaan model persediaan yang dapat mengantisipasi adanya kenaikan
dan penurunan order sehingga didapatkan biaya total persediaan minimal. Jadi dapat disimpulkan bahwa bahwa perusahaan
belum
menggunakan metode yang tepat untuk menentukan berapa besar jumlah
bahan baku dan
kapan tersebut dipesan.
III.
Solusi yang Dilakukan Perusahaan
Untuk
mengetahui kebutuhan bahan baku dilakukan dengan menggunakan metode trend
projection, kemudian dilanjutkan dengan menentukan hubungan antara EOQ, Safety
Stock, ROP dan Maximum Inventory bahan baku. Dengan menerapkan
sistem pengendalian dengan model EOQ ini diharapakn perusahaan mampu
menciptakan suatu kontrol persediaan yang berbasis Just in Time (JIT)
Perusahaan dapat melakukan
peramalan akan kapan waktu memesan bahan baku, kapan menyimpan dan kapan
memakai sehingga tidak akan terjadi penumpukan bahan baku di gudang. Hal ini
dilakukan perusahaan dengan mengintegrasikan model perencanaan dan penegndalian
antara komponen pendukung konsep JIT yaitu EOQ, Safety Stock, ROP dan Maximum
Inventory bahan baku.
Namun, dalam impleemtasi metode
EOQ yang telah diungkapkan penulis tidak dapat dilaksanakan dengan optimal pada
PT. Tipota Furnishing karena faktor modal yang tidak selalu tersedia setiap
saat bila akan diadakan pembelian. Meskipun fasilitas penyimpanan yang dimiliki
oleh PT. Tipota Furnishing sangatlah memenuhi, sehingga batas minimal
persediaan yang harus digudang menurut perhitungan EOQ dapat dilaksanakan pada
kondisi dilapangan.
Oleh
sebab itu, penggunaan metode EOQ pada PT. Tipota Furnishings merupakan Opportunity
Cost bagi perusahaan karena dengan menjalankan kebijakan persediaan bahan
baku yang dijalankan perusahaan selama ini, perusahaan mengorbankan penghematan
biaya bila menggunakan metode EOQ.
IV.
Landasan Teori
4.1
Persediaan
Untuk memperjelas pengertian tentang persediaan, ada beberapa pendapat
tentang
persediaan. Pengertian persediaan mencakup pengertian yang sangat luas,
mencakup
persediaan dalam perusahaan jasa, perusahaan dagang maupun
perusahaan
manufaktur. Sedangkan persediaan dalam arti umum adalah barang
atau bahan yang
akan segera dijual, digunakan atau diproses dalam periode normal perusahaan (Sartono,
1998: 557).
Persediaan juga didefinisikan sebagai suatu aktiva yang meliputi
barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode
usaha normal, atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan atau
proses produksi, ataupun persediaan bahan baku dasar yang menunggui penggunaannya
dalam suatu proses produksi ( Assauri, 1998: 169 ). Persediaan
meliputi barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual kembali, misalnya barang
dagangan yang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali. Persediaan juga
mencakup barang jadi yang telah di produksi atau barang dalam penyelesaian yang
sedang di produksi oleh perusahaan dan termasuk bahan serta perlengkapan yang
akan digunakan dalam proses produksi.
Istilah
persediaan dapat digunakan untuk berbagai macam arti (Ters, 1994), seperti:
1.
cadangan
barang yang tersedia pada waktu tertentu (Aset tangible dimana dapat dilihat,
diukur dan dihitung);
2. daftar
barang dari semua aset fisik;
3.
(sebagai
kata kerja) untuk menentukan kuantitas dari barang yang ada saat ini;
4.
(untuk
pencatatan keuangan dan akuntansi) nilai dari cadangan barang yang dimiliki.
4.2 Konsep
EOQ
Menurut Gitosudarmo, (2002 : 101) EOQ sebenarnya
adalah merupakan volume atau jumlah pembelian yang paling ekonomis untuk
dilaksanakan pada setiap kali pembelian. Untuk memenuhi kebutuhan itu maka
dapat diperhitungkan pemenuhan kebutuhan (pembeliannya) yang paling ekonomis
yaitu sejumlah barang yang akan dapat diperoleh dengan pembelian dengan
menggunakan biaya yang minimal
Sedangkan, menurut Ahyari (1995 : 163) untuk dapat
mencapai tujuan tersebut maka perusahaan harus memenuhi beberapa faktor tentang
persediaan bahan baku. Adapun faktor-faktor tersebut adalah :
- Perkiraan pemakaian
Sebelum kegiatan pembelian bahan baku dilaksanakan, maka
manajemen harus dapat membuat perkiraan bahan baku yang akan dipergunakan
didalam proses produksi pada suatu periode.
- Harga dari bahan
Harga bahan baku yang akan dibeli menjadi salah satu
faktor penentu pula dalam kebijaksanaan persediaan bahan. Harga bahan baku ini
merupakan dasar penyusunan perhitungan berapa besar dana perusahaan yang harus disediakan untuk
investasi dalam persediaan bahan baku tersebut.
- Biaya-biaya persediaan
Biaya-biaya untuk menyelenggarakan persediaan bahan
baku ini sudah selayaknya diperhitungkan pula didalam penentuan besarnya
persediaan bahan baku. Dalam hubungannya dengan biaya-biaya persediaan ini,
maka digunakan data biaya persediaan yaitu: biaya penyimpanan, biaya pemesanan,
biaya tetap persediaan dan kebijaksanaan pembelian.
- Pemakaian senyatanya
Pemakaian bahan baku senyatanya dari periode-periode
yang lalu (actual demand) merupakan salah satu faktor yang perlu
diperhatikan karena untuk keperluan proses produksi akan dipergunakan sebagai
salah satu dasar pertimbangan dalam pengadaan bahan baku pada periode
berikutnya. Seberapa besar penyerapan bahan baku oleh proses produksi
perusahaan serta bagaimana hubungannya dengan perkiraan pemakaian yang sudah
disusun harus senantiasa dianalisa. Dengan demikian maka dapat disusun
perkiraan bahan baku mendekati pada kenyataan.
- Waktu tunggu
Waktu tunggu (lead time) adalah tenggang waktu
yang diperlukan (yang terjadi) antara saat pemesanan bahan baku dengan
datangnya bahan baku itu sendiri. Waktu tunggu ini perlu diperhatikan karena
sangat erat hubungannya dengan penentuan saat pemesanan kembali (reorder
point). Dengan waktu tunggu yang tepat maka perusahaan akan dapat membeli
pada saat yang tepat pula, sehingga resiko penumpukan persediaan atau
kekurangan persediaan dapat ditekan seminimal mungkin.
- Model pembelian bahan
Manajemen perusahaan harus dapat menentukan model
pembelian yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi bahan baku yang dibeli.
Model pembelian yang optimal atau Economic Order Quantity (EOQ).
- Persediaan bahan pengaman (safety stock)
Persediaan pengamanan adalah persediaan tambahan yang
diadakan untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan
(stock out). Selain digunakan untuk menanggulangi terjadinya
keterlambatan datangnya bahan baku.
- Pemesanan kembali (reorder point)
Reorder point adalah saat atau waktu tertentu
perusahaan harus mengadakan pemesanan bahan baku kembali, sehingga datangnya
pemesanan tersebut tepat dengan habisnya bahan baku yantg dibeli, khususnya
dengan metode EOQ. Ketepatan waktu tersebut harus diperhitungkan kembali agak
mundur dari waktu tersebut akan menambah biaya pembelian bahan baku atau stock
out cost (SOC), bila terlalu awal
akan diperlukan biaya penyimpanan yang lebih atau extra carrying cost (ECC).
Ada beberapa cara untuk menetapkan besarnya reorder point, yaitu:
a) Menetapkan jumlah penggunaan selama lead
time ditambah prosentase tertentu sebagai safety stock.
b) Menetapkan jumlah penggunaan selama lead
time ditambah penggunaan selama periode tertentu sebagai safety stock.
c) Menetapkan lead time dengan
biaya minimum.
4.3 Pengertian
Just In Time
Just in Time dikembangkan oleh Toyota Motor Corporation tahun
1973. Tujuan utamanya adalah pengurangan biaya atau perbaikan produktivitas
dengan menghilangkan berbagai pemborosan. Pengembangan yang
sangat penting dalam perencanaan dan pengendalian operasional saat ini adalah
JIT manufacturing yang kadang disebut sebagai”produk tanpa persedian”. JIT
bukan hanya sekedar sebuah metode yang bertujuan untuk mengurangi persediaan.
JIT juga memperhatikan keseluruhan system produksi sehingga komponen yang bebas
dari cacat dapat disediakan untuk tingkat produksi selanjutnya tepat ketika
mereka dibutuhkan – tidak terlambat dan tidak terlalu cepat.
Sedangkan manajemen Just in time adalah teknik manajemen yang
pertama kali dikenalkan oleh jepang, teknik manajemen ini terkenal dengan zero
inventory, yang memiliki arti bahwa perusahaan tidak memiliki persediaan,
contohnya persediaan bahan baku yang akan dibeli disaat dibutuhkan sehingga
perusahaan tidak mengeluarkan biaya penyimpanan bahan baku serta biaya lain
yang berkaitan. Ini merupakan salah satu cara untuk menekan biaya produksi akan
tetapi agar sistem ini dapat berjalan dengan baik harus didukung oleh
faktor-faktor yang sangat mempengaruhi seperti infrastruktur pendukung
contohnya jalan raya jika tidak tersedia jalan yang dapat dilalui oleh alat
transportasi perusahaan maka akan menghambat distribusi produk serta bahan baku
dari dan keluar pabrik dan supplier bahan baku yang siap mensuplai bahan baku
jika dibutuhkan secara ontime jika tidak maka akan menyebabkan waktu produksi
tertunda
JIT tidak hanya sekedar “zero
inventory” sistem ini juga menuntut efisiensi, efektivitas dan produktivitas serta
kerjasama sistem di dalam perusahaan yang bersangkutan, karena untuk
memproduksi sejumlah produk tepat waktu, dengan bahan baku yang akan di beli
saat dibutuhkan dan menuntut penggunaan sumberdaya secara efisien dan efektif
sehingga akan mengurangi biaya-biaya variabel yang timbul akibat kesalahan
produksi, sehingga jumlah produk cacat menjadi berkurang, bahan baku yang tidak
terpakai juga akan semakin berkurang akan tetapi ini di imbangi dengan kualitas
produk yang di hasilkan menjadi semakin baik.
Metode Just InTime (JIT) merupakan filosofi dimana
perusahaan hanya memproduksi atas dasar permintaan, tanpa memanfaatkan
tersedianya persediaan dan tanpa menanggung biaya persediaan. Atau dengan kata
lain mem produksi item-item yang dibutuhkan saja (Nasution, 2008: 309). Setiap
operasi memproduksi hanya untuk memenuhi permintaan dari operasi berikutnya.
Produk tidak akan terjadi sebelum ada tanda dari proses selanjutnya yang
menunjukkan permintaan produk suku cadang dan bahan tiba pada saat ditentukan
untuk dipakai dalam proses produksi [Mulyadi, 2001:26].
Pembelian Just In Time (JIT) adalah pembelian barang
atau bahan sedemekian rupa sehingga secara tepat mendahului permintaan atau
penggunaan. Dalam keadaan ekstrim, tidak ada persediaan (barang dalam proses,
barang jadi, bahan baku dasar) yang ditahan. Sistem pembelian barang secara Just
In Time (JIT) dilakukan atas dasar tarikan permintaan, sehingga barang yang
dibeli dapat diterima tepat waktu, tepat jumlah, bermutu tinggi, dan berharga
murah. Berdasar sistem tarikan (pull system), barang yang diterima dari
pembelian segera digunakan untuk memenuhi permintaan produksi dengan demikian
barang tersebut tidak perlu disimpan di gudang sehingga tercapai sediaan nol (zero
inventory). Adapun karakteristik dalam pembelian Just In Time (JIT) adalah
tingkat kuantitas stabil sesuai yang diinginkan, penyerahan dalam ukuran lot
sesuai yang diperlukan untuk kebutuhan proses produksi yang lebih sering.
4.4 Hal yang
Harus Diperhatikan Dalam Penerapan JIT
a.
Aliran Material yang lancar
Sederhanakan
pola aliran material. Untuk itu dibutuhkan pengaturan total pada lini produksi.
Ini juga membutuhkan akses langsung dengan dan dari bagian penerimaan dan
pengiriman. Tujuannya adalah untuk mendapatkan aliran material yang tidak
terputus dari bagian penerimaan dan kemudian antar tiap tingkat produksi yang
saling berhubungan secara langsung, samapi pada bagian pengiriman. Apapun yang
menghalangi aliran yang merupakan target yang haru diselidiki dan dieliminasi.
b.
Pengurangan waktu set-up
Sesuai dengan JIT, terdapat beberapa
bagian produksi diskret yang memilki waktu set-up mesin yang kadang-kadang
membutuhkan waktu beberapa jam. Hal ini tidak dapat ditoleransi dalam sistem
JIT. Pengurangan waktu setup yang dramatis telah dapat dicapai oleh berbagai
perusahaan, kadang dari 4-7 jam menjadi 3-7 menit. Ini membuat ukuran batch
dapat dikurangi menjadi jumlah yang sangta kecil, yang mengijinkan perusahaan menjadi
sangat fleksibel dan responsif dalam menghadapi perubahan permintaan konsumen.
c.
Pengurangan lead time vendor
Sebagai
pengganti dari pengiriman yang sangat besar dari komponen-komponen yang harus
dibeli setiap 2/3 bulan, dengan sistem JIT kita ingin menerima komponen tepat
pada saat operasi produksi membutuhkan. Untuk itu perusahaan kadang-kadang
harus membuat kontrak jangka panjang dengan vendor untuk mendapatkan kondisi
seperti ini.
d.
Komponen zero defect
Sistem JIT tidak dapat mentolelir
komponen yang cacat, baik itu yang diproduksi maupun yang dibeli. Untuk
komponen yang diproduksi, teknis kontrol statistik harus digunakan untuk
menjamin bahwa semua proses sedang memproses komponen dalam toleransi setiap
waktu. Untuk komponen yang dibeli, vendor diminta untuk menjamin bahwa semua
produk yang mereka sediakan telah diproduksi dalam sistem produksi yang diawasi
secara satistik. Perusahaan kan selalu memiliki program sertifikasi vendor
untuk menjamin terlaksananya hal ini.
e.
Kontrol lantai produksi yang disiplin
Dalam system pengawasan lantai produksi tradisional,
penekanan diberikan pada utilitas mesin, waktu produksi yang panjang yang dapat
mengurangi biaya set up dan juga pengurangan waktu pekerja. Untuk itu, order
produksi dikeluarkan dengan memperhatikan faktorfaktor ini. Dalam JIT,
perhitungan performansi tradisional ini sangat jauh dari keinginan untuk
membentuk persediaan yang rendah dan menghilangkan halhal yang menghalangi
operasi yang responsif. Hal ini membuat waktu awal pelepasan order yang tepat
harus dilakukan setiap saat. Ini juga berarti, kadangkadang mesin dan operator
mesin dapat saja menganggur. Banyak manajer produksi yang telah menghabiskan
sebagian besar waktunya untuk menjaga agar mesin dan tenaga kerja tetap sibuk,
mendapat kesulitan membuat penyesuaian-penyesuaian yang dibutuhkan agar
berhasil menggunakan operasi JIT. Perusahaan yang telah berhasil
mengimplementasikan filosofi JIT akan mendapatkan manfaat yang besar
4.5 Prinsip Dasar Just In Time
Untuk mengaplikasikan metode JIT maka
ada delapan prinsip yang harus dijadikan dasar pertimbangan di dalam menentukan
strategi sistem produksi, yaitu:
1.
Berproduksi
sesuai dengan pesanan
Jadwal Produksi Induk
Sistem manufaktur baru akan dioperasikan untuk menghasilkan produk menunggu
setelah diperoleh kepastian adanya order dalam jumlah tertentu masuk. Tujuan
utamanya untuk memproduksi finished goods tepat waktu dan sebatas pada jumlah
yang ingin dikonsumsikan saja (Just in Time), untuk itu proses produksi akan
menghasilkan sebanyak yang diperlukan dan secepatnya dikirim ke pelanggan yang
memerlukan untuk menghindari terjadinya stock serta untuk menekan biaya
penyimpanan (holding cost).
2.
Produksi
dalam jumlah kecil (Unitary Production)
Produksi dilakukan
dalam jumlah lot (Lot Size) yang kecil untuk menghindari perencanaan dan lead
time yang kompleks seperti halnya dalam produksi jumlah besar. Fleksibilitas
aktivitas produksi akan bisa dilakukan, karena hal tersebut memudahkan untuk
melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam rencana produksi terutama menghadapi
perubahan permintaan pasar.
3.
Mengurangi
pemborosan (Eliminate Waste)
Pemborosan (waste)
harus dieliminasi dalam setiap area operasi yang ada. Semua pemakaian
sumber-sumber input (material, energi, jam kerja mesin atau orang, dan lain-
lain) tidak boleh melebihi batas minimal yang diperlukan untuk mencapai target
produksi.
4.
Perbaikan
aliran produk secara terus menerus
Tujuan pokoknya adalah
menghilangkan proses-proses yang menimbulkan bottleneck dan semua kondisi yang
tidak produktif (idle, delay, material handling, dan lain-lain) yang bisa
menghambat kelancaran aliran produksi.
5.
Penyempurnaan
kualitas produk (Product Quality Perfection)
Kualitas produk
merupakan tujuan dari aplikasi Just in Time dalam sistem produksi. Disini
selalu diupayakan untuk mencapai kondisi “Zero Defect” dengan cara melakukan
pengendalian secara total dalam setiap langkah proses yang ada. Segala bentuk
penyimpangan haruslah bisa diidentifikasikan dan dikoreksi sedini mungkin.
6.
Respek
terhadap semua orang/karyawan (Respect to People)
Dengan metode Just in
Time dalam sistem produksi setiap pekerja akan diberi kesempatan dan otoritas
penuh untuk mengatur dan mengambil keputusan apakah suatu aliran operasi bisa
diteruskan atau harus dihentikan karena dijumpai adanya masalah serius dalam
satu stasiun kerja tertentu.
7.
Mengurangi
segala bentuk ketidakpastian
Inventori yang ide
dasarnya diharapkan bisa mengantisipasi demand yang berfluktuasi dan segala
kondisi yang tidak terduga, justru akan berubah menjadi waste bilamana tidak
segera digunakan. Begitu pula rekruitmen tenaga kerja dalam jumlah besar secara
tidak terkendali seperti halnya yang umum dijumpai dalam aktivitas proyek akan
menyebabkan terjadinya pemborosan bilamana tidak dimanfaatkan pada waktunya.
Oleh karena itu dalam perencanaan dan penjadualan produksi harus bisa dibuat
dan dikendalikan secara teliti. Segala bentuk yang memberi kesan ketidakpastian
harus bisa dieliminir dan harus sudah dimasukkan dalam pertimbangan dan
formulasi model peramalannya.
8.
Perhatian
dalam jangka panjang.
Ketujuh prinsip pelaksanaan Just in
Time dalam sistem produksi di atas bukanlah suatu komitmen perusahaan yang
diaplikasikan dalam jangka waktu pendek, melainkan harus dibangun secara
berkelanjutan dan merupakan komitmen semua pihak dalam jangka panjang. Dalam
jangka pendek, ada kemungkinan aplikasi Just in Time dalam sistem produksi
justru akan menambah biaya produksi mengikuti konsekuensi proses terbentuknya
kurva belajar.
4.6 Persediaan Pada Just In Time
Just
In Time adalah suatu keseluruhan filosofi operasi manajemen dimana segenap
sumber daya, termasuk bahan baku dan suku cadang, personalia, dan fasilitas
dipakai sebatas dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk mengangkat produktifitas dan
mengurangi pemborosan. Just In Time didasarkan pada konsep arus produksi yang
berkelanjutan dan mensyaratkan setiap bagian proses produksi bekerja sama
dengan komponen-komponen lainnya. Tenaga kerja langsung dalam lingkungan Just
In Time dipertangguh dengan perluasan tanggung jawab yang berkontribusi pada
pemangkasan pemborosan biaya tenaga kerja, ruang dan waktu produksi
Perusahaan-perusahaan
pabrikasi menyimpan tiga jenis persediaan : bahan baku, barang dalam proses,
dan barang jadi. Persediaan-persediaan ini dirancang untuk bertindak sebagai
penyangga sehingga kegiatan-kegiatan perusahaan tetap dapat berjalan mulus
kendatipun para pemasok terlambat melakukan pengiriman atau bilamana sebuah
departemen tidak mampu beroperasi selama beberapa waktu karena sesuatu atau hal
lainnya. Persediaan-persediaan ini dirancang untuk bertindak sebagai penyangga
sehingga kegiatan-kegiatan perusahaan tetap dapat berjalan mulus kendatipun
para pemasok terlambat melakukan pengiriman atau bilamana sebuah departemen
tidak mampu beroperasi selama beberapa waktu karena sesuatu atau hal lainnya.
Namun penyimpanan persediaan-persediaan itu sudah barang tentu memakan biaya
besar. Sistem Just In Time merupakan upaya untuk mengurangi atau menghilangkan
persedian. Perusahaan yang mengadopsi system Just In Time ke proses produksinya
mestilah merancang kembali fasilitas - fasilitas pabrikasinya dan kejadian -
kejadian yang memicu proses
Produksi
berdasarkan prediksi terhadap masa yang akan datang dalam sistem tradisonal
memiliki resiko kerugian yang lebih besar karena over produksi daripada
produksi berdasarkan permintaan yang sesungguhnya. Oleh karena itu munculah ide
Just In Time yang memproduksi apabila ada permintaan. Suatu proses produksi
hanya akan memproduksi apabila diisyaratkan oleh proses berikutnya. Sebagai
akibatnya pemborosoan dapat dihilangkan dalam skala besar, yaitu berupa
perbaikan kualitas dan biaya produksi yang lebih rendah. Kedua hal tersebut
menjadikan perusahaan lebih kooperatif. Tujuan utama Just In Time adalah untuk
meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui
V.
Pembahasan Berdasarkan Teori
PT.
Tipota Indonesia sudah seharusnya meninjau kembali kebijakan pengendalian bahan
bakunya. Hal ini mengingat permasalahan yang telah penulis sebutkan pada bab
sebelumnya yang diantaranya adalah kurangnya persediaan bahan baku yang ada digudang, terjadi stock out dan adanya penimbunan bahan baku yang
berlebihan.
Permasalahan
tersebut diatas telah sedikit diatasi dengan menerapkan konsep EOQ pada sistem
pengendalian bahan baku perusahaan. Namun konsep ini kurang optimal karena
meupakan opportunity cost bagi PT. Tipota. Oleh karena itu perlu adanya
penyempurnaan sistem pengendalian dengan menfokuskan dan menerapkan sistem JIT
dalam sistem persediaannya. Target inventori yang diinginkan adalah sama besar
dengan kebutuhan produksi. Akan tetapi terdapat beberapa parameter yang
digunakan sebagai ancang-ancang dan peringatan adanya permasalahan dalam sistem
inventori Tingkat inventori maksimum dan minimum ditentukan pada awal bulan
produksi.
Pada
dasarnya EOQ mampu membawa perusahaan untuk mewujudkan sistem JIT. Jadi, untuk mencapai penerapan konsep JIT pada
persediaan bahan baku, PT. Tipota dapat melakukan hal-hal sebagai berikut.
- Perusahaan sebaiknya menentukan
besarnya persediaan pengaman (Safety Stock), Pemesanan
Kembali (Reorder Point), dan Persediaan Maksimum (Maximum
Inventory) untuk menghindari resiko kehabisan bahan baku (Stock Out)
dan juga kelebihan bahan baku sehingga dapat meminimalisasi biaya bahan
baku bagi perusahaan.
- Dengan quick response berarti
PT. Tipota harus berusaha
untuk mengantisipasi permintaan konsumen dengan segera, diimbangi
dengan perencanaan pemesanan bahan baku dan
pengelolaan yang berkesinambungan
- Menentukan kebijakan tingkat persediaan penyangga
masing-masing produk guna meminimalkan lead
time, karena lead time satu hari merupakan sebuah peluang bagi
perusahaan bahwa pengadaan kembali relatif
memakan waktu yang singkat, sehingga untuk produk-produk yang tingkat fluktuasinya
relatif kecil perusahaan tidak perlu terlalu khawatir dengan menetapkan
tingkat persediaan penyangga terlalu besar.
- Untuk mengoptimalkan pencapaian JIT pada
persediaan, PT. Tipota dapat Perusahaan dapat menggunakan metode EOQ stokastik
sebagai referensi untuk mengendalikan persediaannya, jika tujuan utama perusahaan adalah
efisiensi total biaya persediaan
- Menjaga
sistem just in time yang diterapkan sehingga tidak mengalami kesalahan
lagi, dan juga dengan menjaga harga dari furniture tetap stabil agar dapat
mencapai target penjualannya
Referensi
Assauri,
Sofyan. 1998. Manajeman Produksi dan Operasi. Edisi Revisi. Jakarta:
BPFE UI
Ahyari, Agus. 1995. Efisiensi
Persedian Bahan. Yogyakarta : BPFE
Clarissa,
Irene . 2009. Makalah JIT Management. Diakses dari http://ireneclarissa.wordpress.com
Nasution, Rahman Hakim dan Yudha Prasetyawan. 2008. Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Graha Ilmu : Yogyakarta
Nasution, Fahmi Tagor. 2004. Just
In Time dan Perkembanganya Dalam Perusahaan Industri. ©2004
Digitized by USU digital library.
[*]
Mahasiswa Konsentrasi Manajemen Operasi Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair NIM : 040710652

0 komentar:
Posting Komentar