Kamis, 08 Maret 2012

TUGAS UAS MATKUL PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI


KONSEP JUST IN TIME (JIT) PADA INVENTORY
(ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU
PT. TIPOTA INDONESIA)

Oleh :
Muh Ikhsan Hariadi[*]


I.              Gambaran Umum Perusahaan
PT. Tipota Indonesia didirikan pada tahun 1992, Tipota Indonesia sudah beroperasi selama 14 tahun. Walaupun pada dasarnya menurut perkembangan perusahaan berawal dari suatu usaha yang berskala relatif kecil di daerah kelurahan Krapak Jepara, kemudiaan berturut – turut pindah ke kelurahan Senenan Jepara dan kelurahan Krasak Jepara dan terakhir berlokasi di desa Bandung Rejo Rt 03 Rw III Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara sebagai gudang I dan juga sebagai kantor pusat dan juga didesa Lebuawu Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara sebagai gudang II.
PT. Tipota merupakan perusahaan yang berstatus Penanam Modal Asing (PMA) yang didirikan oleh seorang berkewarganegaraan Denmark yaitu Niki Nasr dan resmi secara hukum berdiri pada tanggal 05 Juli 2003, sesuai dengan akta notaris Iranadi, SH No: 6 tanggal 07 Juli 2003.
PT. Tipota merupakan satu dari sekian banyak perusahaan di Jepara yang bergerak dibidang furniture. Dengan kapasitas container sebesar 15 container perbulan untuk ukuran 40 foot. Tipota berusaha untuk mencapai standard produksi dengan meningkatkan fasilitas produksi seperti ruang Oven, Milling, Heater dan Finishing yang standard. Sehingga diharapkan dalam beberapa bulan kedepan bisa meningkatkan kapasitas output yang dihasilkan sebesar 30 % dari kapasitas sekarang. Selain meubel dari kayu, PT. Tipota juga memproduksi produk meubeller maupun asesoris yang berbahan rotan, synthetic, kulit, aluminium dan stainless steel.
Sampai saat ini market share dari PT Tipota menjangkau ke beberapa benua seperti:
1) Eropa yang merupakan pangsa pasar utama dan meliputi Negara:
a) Denmark                       d) Italia
b) Belanda                         e) Belanda
c) Spanyol                         f) Spanyol
2) Asia
a) Arab c) Korea
b) Jepang d) Jordania
3) Amerika
a) USA
b) Mexico
4) Australia: Australia
5) Afrika: Egypt (Mesir)
Sampai saat ini PT. Tipota terus berusaha untuk mempertahankan market sharenya dengan melakukan promosi melalui media pameran tahunan di berbagai kota besar Eropa seperti Milano Fair, Valencia Fiera dan Singapore Expo.
Struktur Organisasi
1) Nama Perusahaan : PT. TIPOTA
2) Alamat Kantor : Bandung Rejo Rt 03 Rw III Kalinyamatan Jepara
3) Bidang Usaha : Production, Finishing dan Furniture Exporter
4) Tahun berdiri : 2003
5) Jumlah Karyawan : 250 an orang
6) Kapasitas produksi : 15 container perbulan
7) Owner : Niki Nasr
8) Manager : Sulistiono
9) Personalia : Ali Muhtar, SE


II.           Masalah yang Dihadapi Perusahaan
PT. Tipota merupakan perusahaan yang bergerak dibidang industri furniture, yang kegiatan utamanya adalah memproduksi mebel. Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi furniture ini adalah kayu jati dan dalam pelaksanaan proses produksinya bahan baku tersebut selalu tersedia untuk kelancaran proses produksi. Oleh sebab itu perlu dilaksanakan perencanaan dan pengendalian bahan baku. Perusahaan harus bisa mengelola persediaan dengan baik agar dapat memiliki persediaan yang seoptimal mungkin demi kelancaran operasi perusahaan dalam jumlah, waktu, mutu yang tepat serta dengan biaya yang serendah rendahnya
Dalam  tulisan  ini,  penulis menemukan suatu permasalahan yang sedang dialami oleh PT. Tipota yaitu persediaan bahan baku pada PT.Tipota belum direncanakan dengan baik sehingga persediaan bahan baku yang diperusahaan kurang optimal dan proses produksi tidak dapat berjalan dengan lancar. Hal ini disebabkan karena kurangnya persediaan bahan baku yang ada digudang. Hal tersebut terlihat pada saat PT.Tipota mendapatkan pesanan produk mebel, perusahaan tersebut baru melakukan pembelian bahan baku sehingga apabila terjadi keterlambatan datangnya bahan baku perusahaan tidak bisa melakukan proses produksi
Sebelumnya juga pernah terjadi stock out, yaitu pada PT. Tipota akan melakukan produksi yang membutuhkan bahan baku sebesar 940,21m3 tetapi bahan baku yang tersedia hanya 845,23 m3 Disisi lain perusahaan juga pernah terjadi kelebihan bahan baku, sehingga terjadi pemborosan modal kerja yang tertananm dalam persediaan bahan baku tersebut. Ini terjadi pada saat perusahaan melakukan pembeliaan sebanyak 1.110,43 m tetapi bahan baku yang digunakan hanya sebanyak 1.100,11 m3. .
Pada sisi lain karena harga bahan baku yang terus naik, perusahaan juga berusaha menimbun bahan baku dengan membeli bahan baku dalam jumlah yang cukup besar untuk mendapatkan keuntungan membeli bahan baku dengan harga yang murah. Tetapi terkadang perusahaan juga sering mengalami kekurangan bahan baku yang mengakibatkan perusahaan tidak siapuntuk melayani permintaan konsumen sehingga pesanan akan produk terpaksa ditolak oleh perusahaan.
Permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan  ini adalah kurang baiknya perkiraan kebutuhan produksi yang menyebabkan shortage dan overstock, sehingga dibutuhkan peramalan terhadap demand yang memperhatikan pola permintaan masa lalu disertai dengan penggunaan model persediaan yang dapat mengantisipasi adanya kenaikan dan penurunan order sehingga didapatkan biaya total persediaan minimal. Jadi dapat disimpulkan bahwa bahwa perusahaan
belum menggunakan metode yang tepat untuk menentukan berapa besar jumlah
bahan baku dan kapan tersebut dipesan.


III.        Solusi yang Dilakukan Perusahaan
Untuk mengetahui kebutuhan bahan baku dilakukan dengan menggunakan metode trend projection, kemudian dilanjutkan dengan menentukan hubungan antara EOQ, Safety Stock, ROP dan Maximum Inventory bahan baku. Dengan menerapkan sistem pengendalian dengan model EOQ ini diharapakn perusahaan mampu menciptakan suatu kontrol persediaan yang berbasis Just in Time (JIT)
Perusahaan dapat melakukan peramalan akan kapan waktu memesan bahan baku, kapan menyimpan dan kapan memakai sehingga tidak akan terjadi penumpukan bahan baku di gudang. Hal ini dilakukan perusahaan dengan mengintegrasikan model perencanaan dan penegndalian antara komponen pendukung konsep JIT yaitu EOQ, Safety Stock, ROP dan Maximum Inventory bahan baku.
Namun, dalam impleemtasi metode EOQ yang telah diungkapkan penulis tidak dapat dilaksanakan dengan optimal pada PT. Tipota Furnishing karena faktor modal yang tidak selalu tersedia setiap saat bila akan diadakan pembelian. Meskipun fasilitas penyimpanan yang dimiliki oleh PT. Tipota Furnishing sangatlah memenuhi, sehingga batas minimal persediaan yang harus digudang menurut perhitungan EOQ dapat dilaksanakan pada kondisi dilapangan.
Oleh sebab itu, penggunaan metode EOQ pada PT. Tipota Furnishings merupakan Opportunity Cost bagi perusahaan karena dengan menjalankan kebijakan persediaan bahan baku yang dijalankan perusahaan selama ini, perusahaan mengorbankan penghematan biaya bila menggunakan metode EOQ.



IV.        Landasan Teori
4.1    Persediaan
Untuk memperjelas pengertian tentang persediaan, ada beberapa pendapat
tentang persediaan. Pengertian persediaan mencakup pengertian yang sangat luas,
mencakup persediaan dalam perusahaan jasa, perusahaan dagang maupun
perusahaan manufaktur. Sedangkan persediaan dalam arti umum adalah barang
atau bahan yang akan segera dijual, digunakan atau diproses dalam periode normal perusahaan (Sartono, 1998: 557).
Persediaan juga didefinisikan sebagai suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha normal, atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan atau proses produksi, ataupun persediaan bahan baku dasar yang menunggui penggunaannya dalam suatu proses produksi ( Assauri, 1998: 169 ). Persediaan meliputi barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual kembali, misalnya barang dagangan yang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali. Persediaan juga mencakup barang jadi yang telah di produksi atau barang dalam penyelesaian yang sedang di produksi oleh perusahaan dan termasuk bahan serta perlengkapan yang akan digunakan dalam proses produksi.
Istilah persediaan dapat digunakan untuk berbagai macam arti (Ters, 1994), seperti:
1.      cadangan barang yang tersedia pada waktu tertentu (Aset tangible dimana dapat dilihat, diukur dan dihitung);
2.      daftar barang dari semua aset fisik;
3.      (sebagai kata kerja) untuk menentukan kuantitas dari barang yang ada saat ini;
4.      (untuk pencatatan keuangan dan akuntansi) nilai dari cadangan barang yang dimiliki.

4.2     Konsep EOQ
Menurut Gitosudarmo, (2002 : 101) EOQ sebenarnya adalah merupakan volume atau jumlah pembelian yang paling ekonomis untuk dilaksanakan pada setiap kali pembelian. Untuk memenuhi kebutuhan itu maka dapat diperhitungkan pemenuhan kebutuhan (pembeliannya) yang paling ekonomis yaitu sejumlah barang yang akan dapat diperoleh dengan pembelian dengan menggunakan biaya yang minimal
Sedangkan, menurut Ahyari (1995 : 163) untuk dapat mencapai tujuan tersebut maka perusahaan harus memenuhi beberapa faktor tentang persediaan bahan baku. Adapun faktor-faktor tersebut adalah :
  1. Perkiraan pemakaian
Sebelum kegiatan pembelian bahan baku dilaksanakan, maka manajemen harus dapat membuat perkiraan bahan baku yang akan dipergunakan didalam proses produksi pada suatu periode.
  1. Harga dari bahan
Harga bahan baku yang akan dibeli menjadi salah satu faktor penentu pula dalam kebijaksanaan persediaan bahan. Harga bahan baku ini merupakan dasar penyusunan perhitungan berapa besar dana  perusahaan yang harus disediakan untuk investasi dalam persediaan bahan baku tersebut.
  1. Biaya-biaya persediaan
Biaya-biaya untuk menyelenggarakan persediaan bahan baku ini sudah selayaknya diperhitungkan pula didalam penentuan besarnya persediaan bahan baku. Dalam hubungannya dengan biaya-biaya persediaan ini, maka digunakan data biaya persediaan yaitu: biaya penyimpanan, biaya pemesanan, biaya tetap persediaan dan kebijaksanaan pembelian.
  1. Pemakaian senyatanya
Pemakaian bahan baku senyatanya dari periode-periode yang lalu (actual demand) merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena untuk keperluan proses produksi akan dipergunakan sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam pengadaan bahan baku pada periode berikutnya. Seberapa besar penyerapan bahan baku oleh proses produksi perusahaan serta bagaimana hubungannya dengan perkiraan pemakaian yang sudah disusun harus senantiasa dianalisa. Dengan demikian maka dapat disusun perkiraan bahan baku mendekati pada kenyataan.
  1. Waktu tunggu
Waktu tunggu (lead time) adalah tenggang waktu yang diperlukan (yang terjadi) antara saat pemesanan bahan baku dengan datangnya bahan baku itu sendiri. Waktu tunggu ini perlu diperhatikan karena sangat erat hubungannya dengan penentuan saat pemesanan kembali (reorder point). Dengan waktu tunggu yang tepat maka perusahaan akan dapat membeli pada saat yang tepat pula, sehingga resiko penumpukan persediaan atau kekurangan persediaan dapat ditekan seminimal mungkin.
  1. Model pembelian bahan
Manajemen perusahaan harus dapat menentukan model pembelian yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi bahan baku yang dibeli. Model pembelian yang optimal atau Economic Order Quantity (EOQ).
  1. Persediaan bahan pengaman (safety stock)
Persediaan pengamanan adalah persediaan tambahan yang diadakan untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan (stock out). Selain digunakan untuk menanggulangi terjadinya keterlambatan datangnya bahan baku.
  1. Pemesanan kembali (reorder point)
Reorder point adalah saat atau waktu tertentu perusahaan harus mengadakan pemesanan bahan baku kembali, sehingga datangnya pemesanan tersebut tepat dengan habisnya bahan baku yantg dibeli, khususnya dengan metode EOQ. Ketepatan waktu tersebut harus diperhitungkan kembali agak mundur dari waktu tersebut akan menambah biaya pembelian bahan baku atau stock out cost (SOC), bila  terlalu awal akan diperlukan biaya penyimpanan yang lebih atau extra carrying cost (ECC). Ada beberapa cara untuk menetapkan besarnya reorder point, yaitu:
a) Menetapkan jumlah penggunaan selama lead time ditambah prosentase tertentu sebagai safety stock.
b) Menetapkan jumlah penggunaan selama lead time ditambah penggunaan selama periode tertentu sebagai safety stock.
c) Menetapkan lead time dengan biaya minimum.



4.3     Pengertian Just In Time
Just in Time dikembangkan oleh Toyota Motor Corporation tahun 1973. Tujuan utamanya adalah pengurangan biaya atau perbaikan produktivitas dengan menghilangkan berbagai pemborosan. Pengembangan yang sangat penting dalam perencanaan dan pengendalian operasional saat ini adalah JIT manufacturing yang kadang disebut sebagai”produk tanpa persedian”. JIT bukan hanya sekedar sebuah metode yang bertujuan untuk mengurangi persediaan. JIT juga memperhatikan keseluruhan system produksi sehingga komponen yang bebas dari cacat dapat disediakan untuk tingkat produksi selanjutnya tepat ketika mereka dibutuhkan – tidak terlambat dan tidak terlalu cepat.
Sedangkan manajemen Just in time adalah teknik manajemen yang pertama kali dikenalkan oleh jepang, teknik manajemen ini terkenal dengan zero inventory, yang memiliki arti bahwa perusahaan tidak memiliki persediaan, contohnya persediaan bahan baku yang akan dibeli disaat dibutuhkan sehingga perusahaan tidak mengeluarkan biaya penyimpanan bahan baku serta biaya lain yang berkaitan. Ini merupakan salah satu cara untuk menekan biaya produksi akan tetapi agar sistem ini dapat berjalan dengan baik harus didukung oleh faktor-faktor yang sangat mempengaruhi seperti infrastruktur pendukung contohnya jalan raya jika tidak tersedia jalan yang dapat dilalui oleh alat transportasi perusahaan maka akan menghambat distribusi produk serta bahan baku dari dan keluar pabrik dan supplier bahan baku yang siap mensuplai bahan baku jika dibutuhkan secara ontime jika tidak maka akan menyebabkan waktu produksi tertunda
JIT tidak hanya sekedar “zero inventory” sistem ini juga menuntut efisiensi, efektivitas dan produktivitas serta kerjasama sistem di dalam perusahaan yang bersangkutan, karena untuk memproduksi sejumlah produk tepat waktu, dengan bahan baku yang akan di beli saat dibutuhkan dan menuntut penggunaan sumberdaya secara efisien dan efektif sehingga akan mengurangi biaya-biaya variabel yang timbul akibat kesalahan produksi, sehingga jumlah produk cacat menjadi berkurang, bahan baku yang tidak terpakai juga akan semakin berkurang akan tetapi ini di imbangi dengan kualitas produk yang di hasilkan menjadi semakin baik.
Metode Just InTime (JIT) merupakan filosofi dimana perusahaan hanya memproduksi atas dasar permintaan, tanpa memanfaatkan tersedianya persediaan dan tanpa menanggung biaya persediaan. Atau dengan kata lain mem produksi item-item yang dibutuhkan saja (Nasution, 2008: 309). Setiap operasi memproduksi hanya untuk memenuhi permintaan dari operasi berikutnya. Produk tidak akan terjadi sebelum ada tanda dari proses selanjutnya yang menunjukkan permintaan produk suku cadang dan bahan tiba pada saat ditentukan untuk dipakai dalam proses produksi [Mulyadi, 2001:26].
Pembelian Just In Time (JIT) adalah pembelian barang atau bahan sedemekian rupa sehingga secara tepat mendahului permintaan atau penggunaan. Dalam keadaan ekstrim, tidak ada persediaan (barang dalam proses, barang jadi, bahan baku dasar) yang ditahan. Sistem pembelian barang secara Just In Time (JIT) dilakukan atas dasar tarikan permintaan, sehingga barang yang dibeli dapat diterima tepat waktu, tepat jumlah, bermutu tinggi, dan berharga murah. Berdasar sistem tarikan (pull system), barang yang diterima dari pembelian segera digunakan untuk memenuhi permintaan produksi dengan demikian barang tersebut tidak perlu disimpan di gudang sehingga tercapai sediaan nol (zero inventory). Adapun karakteristik dalam pembelian Just In Time (JIT) adalah tingkat kuantitas stabil sesuai yang diinginkan, penyerahan dalam ukuran lot sesuai yang diperlukan untuk kebutuhan proses produksi yang lebih sering.

4.4     Hal yang Harus Diperhatikan Dalam Penerapan JIT
a.             Aliran Material yang lancar
Sederhanakan pola aliran material. Untuk itu dibutuhkan pengaturan total pada lini produksi. Ini juga membutuhkan akses langsung dengan dan dari bagian penerimaan dan pengiriman. Tujuannya adalah untuk mendapatkan aliran material yang tidak terputus dari bagian penerimaan dan kemudian antar tiap tingkat produksi yang saling berhubungan secara langsung, samapi pada bagian pengiriman. Apapun yang menghalangi aliran yang merupakan target yang haru diselidiki dan dieliminasi.
b.             Pengurangan waktu set-up
Sesuai dengan JIT, terdapat beberapa bagian produksi diskret yang memilki waktu set-up mesin yang kadang-kadang membutuhkan waktu beberapa jam. Hal ini tidak dapat ditoleransi dalam sistem JIT. Pengurangan waktu setup yang dramatis telah dapat dicapai oleh berbagai perusahaan, kadang dari 4-7 jam menjadi 3-7 menit. Ini membuat ukuran batch dapat dikurangi menjadi jumlah yang sangta kecil, yang mengijinkan perusahaan menjadi sangat fleksibel dan responsif dalam menghadapi perubahan permintaan konsumen.
c.              Pengurangan lead time vendor
Sebagai pengganti dari pengiriman yang sangat besar dari komponen-komponen yang harus dibeli setiap 2/3 bulan, dengan sistem JIT kita ingin menerima komponen tepat pada saat operasi produksi membutuhkan. Untuk itu perusahaan kadang-kadang harus membuat kontrak jangka panjang dengan vendor untuk mendapatkan kondisi seperti ini.
d.             Komponen zero defect
Sistem JIT tidak dapat mentolelir komponen yang cacat, baik itu yang diproduksi maupun yang dibeli. Untuk komponen yang diproduksi, teknis kontrol statistik harus digunakan untuk menjamin bahwa semua proses sedang memproses komponen dalam toleransi setiap waktu. Untuk komponen yang dibeli, vendor diminta untuk menjamin bahwa semua produk yang mereka sediakan telah diproduksi dalam sistem produksi yang diawasi secara satistik. Perusahaan kan selalu memiliki program sertifikasi vendor untuk menjamin terlaksananya hal ini.
e.              Kontrol lantai produksi yang disiplin
Dalam system pengawasan lantai produksi tradisional, penekanan diberikan pada utilitas mesin, waktu produksi yang panjang yang dapat mengurangi biaya set up dan juga pengurangan waktu pekerja. Untuk itu, order produksi dikeluarkan dengan memperhatikan faktorfaktor ini. Dalam JIT, perhitungan performansi tradisional ini sangat jauh dari keinginan untuk membentuk persediaan yang rendah dan menghilangkan halhal yang menghalangi operasi yang responsif. Hal ini membuat waktu awal pelepasan order yang tepat harus dilakukan setiap saat. Ini juga berarti, kadangkadang mesin dan operator mesin dapat saja menganggur. Banyak manajer produksi yang telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menjaga agar mesin dan tenaga kerja tetap sibuk, mendapat kesulitan membuat penyesuaian-penyesuaian yang dibutuhkan agar berhasil menggunakan operasi JIT. Perusahaan yang telah berhasil mengimplementasikan filosofi JIT akan mendapatkan manfaat yang besar

4.5  Prinsip Dasar Just In Time
          Untuk mengaplikasikan metode JIT maka ada delapan prinsip yang harus dijadikan dasar pertimbangan di dalam menentukan strategi sistem produksi, yaitu:
1.             Berproduksi sesuai dengan pesanan
Jadwal Produksi Induk Sistem manufaktur baru akan dioperasikan untuk menghasilkan produk menunggu setelah diperoleh kepastian adanya order dalam jumlah tertentu masuk. Tujuan utamanya untuk memproduksi finished goods tepat waktu dan sebatas pada jumlah yang ingin dikonsumsikan saja (Just in Time), untuk itu proses produksi akan menghasilkan sebanyak yang diperlukan dan secepatnya dikirim ke pelanggan yang memerlukan untuk menghindari terjadinya stock serta untuk menekan biaya penyimpanan (holding cost).
2.             Produksi dalam jumlah kecil (Unitary Production)
Produksi dilakukan dalam jumlah lot (Lot Size) yang kecil untuk menghindari perencanaan dan lead time yang kompleks seperti halnya dalam produksi jumlah besar. Fleksibilitas aktivitas produksi akan bisa dilakukan, karena hal tersebut memudahkan untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam rencana produksi terutama menghadapi perubahan permintaan pasar.
3.             Mengurangi pemborosan (Eliminate Waste)
Pemborosan (waste) harus dieliminasi dalam setiap area operasi yang ada. Semua pemakaian sumber-sumber input (material, energi, jam kerja mesin atau orang, dan lain- lain) tidak boleh melebihi batas minimal yang diperlukan untuk mencapai target produksi.
4.             Perbaikan aliran produk secara terus menerus
Tujuan pokoknya adalah menghilangkan proses-proses yang menimbulkan bottleneck dan semua kondisi yang tidak produktif (idle, delay, material handling, dan lain-lain) yang bisa menghambat kelancaran aliran produksi.
5.             Penyempurnaan kualitas produk (Product Quality Perfection)
Kualitas produk merupakan tujuan dari aplikasi Just in Time dalam sistem produksi. Disini selalu diupayakan untuk mencapai kondisi “Zero Defect” dengan cara melakukan pengendalian secara total dalam setiap langkah proses yang ada. Segala bentuk penyimpangan haruslah bisa diidentifikasikan dan dikoreksi sedini mungkin.
6.             Respek terhadap semua orang/karyawan (Respect to People)
Dengan metode Just in Time dalam sistem produksi setiap pekerja akan diberi kesempatan dan otoritas penuh untuk mengatur dan mengambil keputusan apakah suatu aliran operasi bisa diteruskan atau harus dihentikan karena dijumpai adanya masalah serius dalam satu stasiun kerja tertentu.
7.             Mengurangi segala bentuk ketidakpastian
Inventori yang ide dasarnya diharapkan bisa mengantisipasi demand yang berfluktuasi dan segala kondisi yang tidak terduga, justru akan berubah menjadi waste bilamana tidak segera digunakan. Begitu pula rekruitmen tenaga kerja dalam jumlah besar secara tidak terkendali seperti halnya yang umum dijumpai dalam aktivitas proyek akan menyebabkan terjadinya pemborosan bilamana tidak dimanfaatkan pada waktunya. Oleh karena itu dalam perencanaan dan penjadualan produksi harus bisa dibuat dan dikendalikan secara teliti. Segala bentuk yang memberi kesan ketidakpastian harus bisa dieliminir dan harus sudah dimasukkan dalam pertimbangan dan formulasi model peramalannya.
8.             Perhatian dalam jangka panjang.
Ketujuh prinsip pelaksanaan Just in Time dalam sistem produksi di atas bukanlah suatu komitmen perusahaan yang diaplikasikan dalam jangka waktu pendek, melainkan harus dibangun secara berkelanjutan dan merupakan komitmen semua pihak dalam jangka panjang. Dalam jangka pendek, ada kemungkinan aplikasi Just in Time dalam sistem produksi justru akan menambah biaya produksi mengikuti konsekuensi proses terbentuknya kurva belajar.

4.6     Persediaan Pada Just In Time
Just In Time adalah suatu keseluruhan filosofi operasi manajemen dimana segenap sumber daya, termasuk bahan baku dan suku cadang, personalia, dan fasilitas dipakai sebatas dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk mengangkat produktifitas dan mengurangi pemborosan. Just In Time didasarkan pada konsep arus produksi yang berkelanjutan dan mensyaratkan setiap bagian proses produksi bekerja sama dengan komponen-komponen lainnya. Tenaga kerja langsung dalam lingkungan Just In Time dipertangguh dengan perluasan tanggung jawab yang berkontribusi pada pemangkasan pemborosan biaya tenaga kerja, ruang dan waktu produksi
Perusahaan-perusahaan pabrikasi menyimpan tiga jenis persediaan : bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. Persediaan-persediaan ini dirancang untuk bertindak sebagai penyangga sehingga kegiatan-kegiatan perusahaan tetap dapat berjalan mulus kendatipun para pemasok terlambat melakukan pengiriman atau bilamana sebuah departemen tidak mampu beroperasi selama beberapa waktu karena sesuatu atau hal lainnya. Persediaan-persediaan ini dirancang untuk bertindak sebagai penyangga sehingga kegiatan-kegiatan perusahaan tetap dapat berjalan mulus kendatipun para pemasok terlambat melakukan pengiriman atau bilamana sebuah departemen tidak mampu beroperasi selama beberapa waktu karena sesuatu atau hal lainnya. Namun penyimpanan persediaan-persediaan itu sudah barang tentu memakan biaya besar. Sistem Just In Time merupakan upaya untuk mengurangi atau menghilangkan persedian. Perusahaan yang mengadopsi system Just In Time ke proses produksinya mestilah merancang kembali fasilitas - fasilitas pabrikasinya dan kejadian - kejadian yang memicu proses
Produksi berdasarkan prediksi terhadap masa yang akan datang dalam sistem tradisonal memiliki resiko kerugian yang lebih besar karena over produksi daripada produksi berdasarkan permintaan yang sesungguhnya. Oleh karena itu munculah ide Just In Time yang memproduksi apabila ada permintaan. Suatu proses produksi hanya akan memproduksi apabila diisyaratkan oleh proses berikutnya. Sebagai akibatnya pemborosoan dapat dihilangkan dalam skala besar, yaitu berupa perbaikan kualitas dan biaya produksi yang lebih rendah. Kedua hal tersebut menjadikan perusahaan lebih kooperatif. Tujuan utama Just In Time adalah untuk meningkatkan laba dan posisi persaingan perusahaan yang dicapai melalui


V.           Pembahasan Berdasarkan Teori
PT. Tipota Indonesia sudah seharusnya meninjau kembali kebijakan pengendalian bahan bakunya. Hal ini mengingat permasalahan yang telah penulis sebutkan pada bab sebelumnya yang diantaranya adalah kurangnya persediaan bahan baku yang ada digudang, terjadi stock out dan adanya penimbunan bahan baku yang berlebihan.
Permasalahan tersebut diatas telah sedikit diatasi dengan menerapkan konsep EOQ pada sistem pengendalian bahan baku perusahaan. Namun konsep ini kurang optimal karena meupakan opportunity cost bagi PT. Tipota. Oleh karena itu perlu adanya penyempurnaan sistem pengendalian dengan menfokuskan dan menerapkan sistem JIT dalam sistem persediaannya. Target inventori yang diinginkan adalah sama besar dengan kebutuhan produksi. Akan tetapi terdapat beberapa parameter yang digunakan sebagai ancang-ancang dan peringatan adanya permasalahan dalam sistem inventori Tingkat inventori maksimum dan minimum ditentukan pada awal bulan produksi.
Pada dasarnya EOQ mampu membawa perusahaan untuk mewujudkan sistem JIT. Jadi,  untuk mencapai penerapan konsep JIT pada persediaan bahan baku, PT. Tipota dapat melakukan hal-hal sebagai berikut.
  1. Perusahaan sebaiknya menentukan besarnya persediaan pengaman (Safety Stock), Pemesanan Kembali (Reorder Point), dan Persediaan Maksimum (Maximum Inventory) untuk menghindari resiko kehabisan bahan baku (Stock Out) dan juga kelebihan bahan baku sehingga dapat meminimalisasi biaya bahan baku bagi perusahaan.
  2. Dengan quick response berarti PT. Tipota harus berusaha untuk mengantisipasi permintaan konsumen dengan segera, diimbangi dengan perencanaan pemesanan bahan baku dan pengelolaan yang berkesinambungan
  3. Menentukan kebijakan tingkat persediaan penyangga masing-masing produk guna meminimalkan lead time, karena lead time satu hari merupakan sebuah peluang bagi perusahaan bahwa pengadaan kembali relatif memakan waktu yang singkat, sehingga untuk produk-produk yang tingkat fluktuasinya relatif kecil perusahaan tidak perlu terlalu khawatir dengan menetapkan tingkat persediaan penyangga terlalu besar.
  4. Untuk mengoptimalkan pencapaian JIT pada persediaan, PT. Tipota dapat Perusahaan dapat menggunakan metode EOQ stokastik sebagai referensi untuk mengendalikan persediaannya, jika tujuan utama perusahaan adalah efisiensi total biaya persediaan
  5. Menjaga sistem just in time yang diterapkan sehingga tidak mengalami kesalahan lagi, dan juga dengan menjaga harga dari furniture tetap stabil agar dapat mencapai target penjualannya


Referensi
Assauri, Sofyan. 1998. Manajeman Produksi dan Operasi. Edisi Revisi. Jakarta: BPFE UI
Ahyari, Agus. 1995. Efisiensi Persedian Bahan. Yogyakarta : BPFE
Clarissa, Irene . 2009. Makalah JIT Management. Diakses dari http://ireneclarissa.wordpress.com
Hartini, Sri. Et. al. Usulan Perbaikan Sistem Persediaan Untuk Meminimalisasi Biaya Total Persediaan Pada PT. Semarang Autocamp Manufacturing Indonesia. J@TI Undip, Vol V, No 1, Januari 2010
Nasution, Rahman Hakim dan Yudha Prasetyawan. 2008. Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Graha Ilmu : Yogyakarta
Nasution, Fahmi Tagor. 2004. Just In Time dan Perkembanganya Dalam Perusahaan Industri. ©2004 Digitized by USU digital library.


[*] Mahasiswa Konsentrasi Manajemen Operasi Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair NIM : 040710652

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2009 Catatan Sang Penulis. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator