Rabu, 28 Maret 2012

Tugas Etika Bisnis 2


”PUTIH” KATA YANG MENYESATKAN DALAM IKLAN KECANTIKAN

Kecantikan..!!sebuah kata yang memikat semua orang, kaum adam terutama sangat memuja kecantikan. Dan kecantikan itu sendiri sangat erat kaitannya dengan wanita di seluruh dunia. Kecantikan di era modern saat ini pun semakin berkembang... meski nilainya sangat relatif, tapi kecantikan tetap menjadi pujaan. Inner beauty misalnya, banyak pria yang merasa wanita yang memancarkan inner beauty adalah wanita yang paling cantik (www.ikaningtyas.blogspot.com).
Berawal dari hal diatas maka sekarang ini mulai timbul fenomena para wanita yang mulai berlomba-lomba membuat dirinya tampak cantik dengan menjadikan kulitnya putih. Hal ini tentunya direspon oleh produsen produk-produk kecantikan. Mereka juga gencar melakukan promosi melalui iklan mempersuasi para konsumen terutama wanita. Produk kosmetika sekarang ini lebih menyerang sisi whitening seorang wanita (www.blogombal.org). Sehingga iklan-iklan kosmetika pun berlomba-lomba merebut hati pasar dengan memanfaatkan hal ini.
“Putih” menjadi tagline yang wajib dicantumkan semua produk perawatan kulit, kalau tidak ingin produknya awet di display-display supermarket atau di toko kosmetik (www.politikana.com). Beberapa bulan belakangan ini ada iklan sebuah produk perawatan kulit yang ditayangkan secara bersambung di stasuin-stasuin TV. Sebuah iklan yang diakhiri dengan bahagia yaitu kembalinya sang kekasih (pria) yang pernah “khilaf” meninggalkan seorang perempuan. Dengan kulit wajah cerah dan putih (dulu saat ditinggalkan sang pria, si perempuan berkulit wajah gelap) dan rona ceria, dia berhasil menundukkan laki-laki yang pernah meninggalkannya dalam ikatan pernikahan. Kalo dipikir-pikir agak kurang rasional iklannya karena jelas banget gak ada hubungan antar pake ponds dengan kembalinya pria ke wanita ke dala hubungan pernikahan lagi, tapi karena iklan ini membidik sisi emosional yang liat nampaknya hal-hal yang gak rasional pun jadi rasional. Apalagi target pasar untuk produk ini jelas-jelas wanita yang secara emosional lebih mudah tersentuh.
Sebuah iklan yang bagus, tapi juga bulus. Konon maraknya kata ”putih” dalam iklan-iklan produk perawatan kulit adalah kemauan konsumen, dalam hal ini perempuan. Sekitar tahun 1990-an, sebuah korporasi besar, Unilever membuat kajian tentang apa yang diinginkan perempuan di beberapa negara Asia, antara lain Thailand, China dan Indonesia. Terkumpul 1000 responden perempuan dalam berbagai kelompok usia, kelas ekonomi dan tempat tinggal (desa dan kota). Hasilnya 85 persen para perempuan menginginkan kulit mereka tampak lebih putih (www.politikana.com).
Sayangnya, pemerintah tampaknya tidak begitu kritis melihat hal ini, sebab harus diakui dampak iklan sangat berpengaruh. Dalam tayangan Dorce Show tanggal 20 Okt. 2008, ada seorang wanita yang menjadi korban karena ingin memiliki kulit yang lebih cerah agar kelihatan lebih cantik. Saya yakin, ada banyak wanita yang berpikir demikian, dan karena faktor ekonomi mereka tidak sanggup untuk membeli produk yang diiklankan, jadinya mereka memilih obat-obat yang dijual bebas (www.wikimu.com). Para remaja sekarang juga berlomba-lomba memiliki produk kecantikan sebab pasar remaja adalah pasar yang menguntungkan dari sisi pemasaran. Remaja putri pun saat ini bisa mempercayai sebuah iklan begitu saja, oleh karena secara psikologis mereka masih labil bisa jadi mereka begitu mudah diombang-ambingkan.


DAFTAR PUSTAKA
http://blogombal.org/2008/09/09/putih-itu-cantik/
http://ikaningtyas.blogspot.com/2008_02_01_archive.html
http://www.wikimu.com/news/DisplayNews.aspx?id=11185

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2009 Catatan Sang Penulis. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator