Minggu, 08 April 2012

Kenangan di Pantai Balekambang


Unforgetable Moment in Balekambang Beach with our Beloved Friends (Ikhwan Mosaic 2007)




Perjalanan cerita ini dimulai ketika kita bersepakat untuk melakukan jalan-jalan dengan tujuan untuk kebersamaan dan kesolidan persahabatan kita setelah hampir 5 tahun ini. Awalnya kami dipertemukan dalam organisasi yang luar biasa yang telah memberikan pengalaman dan ilmu yang bermanfaat bagi kami semua, Moslem Student Association of Economic Faculty (MoSAIC). Dan selanjutnya kami tergabung dalam Forju Ikhwan (Forum 2007 Ikhwan) yang terdiri dari kurang lebih 10 anggota dengan berbagai jurusan yang berbeda.
Akan tetapi, sayangnya dalam perjalanan kali ini hanya 4 anggota saja yang bisa bergabung. Dimulai dari “syuro” (baca : rapat) yang dihadiri 5 anggota untuk menentukan destinasi jalan-jalan kami yang menghasilkan opsi antara Gunung Bromo dan Pantai Balekambang. Namun pada pertemuan pertama itu belum menghasilkan keputusan terkait kapan dan tempat mana yang akan kita kunjungi. Yah, maklum sangking pada sibuknya dengan agenda masing-masing yang tidak bisa ditinggal. Akhirnya terjadilah pertemuan kedua yang kali ini hanya dihadiri oleh 4 orang saja. Pertemuan singkat dan mendadak di malam hari itu menghasilkan keputusan bahwa kita akan mengujungi Gunung Kelud – supaya bisa mampir dan bersilaturahmi ke rumah salah satu anggota di Kediri – dan tanggal yang disepakati adalah 7 April 2012 yang bertepatan lusa harinya.
Pada hari yang telah disepakati, tiba-tiba ada salah satu anggota yang merubah peta jalan kita. Kesepakatan untuk berkunjung ke Gunung Kelud dibatalkan (entah kenapa kok tiba-tiba dibatalkan). Dengan berbagai pertimbangan yang matang, akhirnya kita menyepakati untuk berangkat ke salah satu alternatif tujuan semula yaitu di pantai Balekambang. Dengan perbekalan seadanya ala backpaker kami pun memulai perjalanan dari Surabaya menuju Malang dengan menggunakan dua sepeda motor. Yang awalnya kami bersepakat untuk berangkat pukul 7 pagi, alhasil molor juga dengan berbagai alasan klasik (yah..tau sendiri kan bagi yang dulunya pernah jadi aktivis dikampus) dan karena satu alat yang membuat kami bingung kesana-kemari mencari pinjaman, yupps it’s called Camera. Tapi ujung-ujungnya tetap saja kami tidak mendapatkanya.
Tepat jam 08.30 kami berangkat menuju Malang dengan bondo nekat karena memang tdak ada yang tau jalan menuju ke Balekambang. Kami berangkat dengan ekspektasi akan melihat panorama pantai yang indah dan bagus. Disepanjang perjalanan ada saja ulah dari kami. Ada yang usil merekam perjalanan kita, ada yang bercandaan saat berhenti di lampu merah atau saat bersebelahan di jalan (baca : pas jalan sepi) dan ada juga yang sebagian dari kami masih ngantuk karena malam sebelumnya mengkuti agenda Mabit. Dan yang lebih luar biasa lagi adalah ada juga yang masih menjalankan ibadah Puasa tengah bulan.. Subhanallah..
Setelah berjalan melalui Sidoarjo, Pasuruan dan akhirnya tibalah di Malang. Nah...dari sini kami mulai bingung untuk menentukan arah. Seperti biasa jururs bertanya dikeluarkan, dengan penuh antusias bapak-bapak yang agak berumur dan berbadan subur yang sedang duduk santi dipinggir jalan itu, memberikan informasi bahwa jalan saja ke arah Turen (20 km dari tempat kami bertanya) dan dari sana ikuti saja arah petunjuknya. Selanjutnya kami mengikuti petunjuk dari bapak tadi dan setelah menempuh waktu sekitar 30 menit sampailah kami di daerah Turen. Betapa senangnya kami setelah membaca petunjuk arah dengan tulisan Pantai Balekambang dan betapa kagetnya juga setelah membaca tulisan kecil dibawahnya “33,5 km”.  Namun dengan demikian justru membuat kami semakin kencang memacu laju kendaraan kami. Meskipun sudah pada pegel semua tapi tetap semangat untuk segera menuju ke ini pantai.
Akhirnya setelah menempuh waktu sekitar 4 jam kamipun sampai di TKP. Welcome Balekambang. Ternyata tidak sia-sia perjuangan kami menempuh perjalanan yang melelahkan. Kondisi siang hari saat itu yang cerah telah membuat kami sedikit gerah. Namun karena pemandangan pantai yang cukup indah gerah yang kami rasakan pun sedikit hilang. Hal yan kami lakukan setelah kami sampai adalah bersih-bersih dan Sholat terlebih dahulu di Mushola yang letaknya tak jauh dari pusat keramaian pantai namun berada di pojokan.
Selesai sholat kami bergegas ke pantai untuk menikmati suasana dan pemandangan yang disuguhkan oleh Balekambang ini. Kamipun menyewa tikar rame-rame dan merebahkan tubuh sejenak di daratan berpasir tepi pantai dengan sejuta keindahan pemandangan alam. Setelah dirasa cukup fit kembali, beberapa diantara kami langsung melakukan observasi, melihat-lihat keindahan yang tersembunyi di Balekambang, sementara ada juga yang masih menimati nyamanya rebahan di bawah pohon besar dipinggir pantai dengan beralaskan tikar.
Berikut ini beberapa gambar yang sempat saya abadikan dengan menggunakan HP, meskipun tidak terlalu bagus, tapi setidaknya memuaskan.heheheehee
Ini adalah kondisi pantai saat kita pertama kali sampai di Balekambang. Tampak ramai pengunjung yang lagi asyik bermain air.

Kondisi pantai setelah beberapa jam kami sampai di TKP. Air sudah mulai surut dan sudah mulai tampak batu-batuan indah dengan beberapa biota laut yang hidup dan bersembunyi di sela-sela bebatuan kecil tersebut

Jembatan yang menghubungkan kita dengan Pulau Ismoyo dimana di tengah pulau keil tersebut terdapat Pura. Gambar di atas adalah pada saat air surut, jika air pasang maka pasir dibawah jembatan tersebut akan tertutup dengan air laut

 Pulau Ismoyo dengan Pura ditengahnya. Gambar diambil saat menjelang senja.

Saya sedang berada di sisi barat Pulau Ismoyo dengan air laut yang masih surut

Saya sedang berada di atas pulau Ismoyo tepatnya di sebelah kanan Pura. Nampak dari sini bebatuan pantai Balekambang saat surut yang terbentang luas. 

Ini adalah sisi lain dari pantai Balekambang. Terdapat pulau yang tidak terawat. Kondisi jembatan yang sudah rusak dan daerah ini jarang sekali dijamah oleh pengunjung. Pulai ini terletak di ujung barat pantai Balekambang.

Sunrise di Balekambang. Tampak air sudah mulai pasang kembali. Gambar terlihat dari sisi timur pantai Balekambang

Itulah beberapa gambar yang sempat kami abadikan. Mudah-mudahan dapat memberikan gambaran tentang objek wisata pantai Balekambang. Oiya lupa,,untuk tarif masuk ke objek wisata kita dikenakan Rp. 10.000 dengan biaya parkir Rp. 1000. Disini juga terdapat tempat penyewaan tikar dan tenda. So,,,bagi yang mau bermalam di pantai silahkan bisa menyewa tenda, atau bisa juga menginap di penginapan yang disediakan di sekitar pantai tersebut. Untuk makanan, saya rasa cukup murah dan enak juga. Warung makanan dan minuman di Balekambang ini semuanya mencantumkan daftar harga dengan kisaran harga Rp. 5000 - Rp. 7000. Jadi tidak usah khawatir untuk "ditipu" penjual disini. Satu yang paling berkesan adalah saat kami menikmati es degan hijau dengan pentol cilok yang cukup nikmat sambil menyaksikan sunrise. Terakhir kami meninggalkan objek wisata sekitar pukul 18.30 dengan membawa pengalaman yang luar biasa.

OK guys.....!!!!! Sampai jumpa pada perjalanan berikutnya dengan tempat yang lebih seru dan     personil yang lebih lengkap lagi...Love u all cz Allah...

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2009 Catatan Sang Penulis. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator