Jumat, 06 April 2012

Akhirnya Tertulis Juga



Wahai Engkau yang Telah Melumpuhkan Hatiku


"Hati yang menunduk senantiasa menceluplah kejernihan, dalam niat-nat hingga dalam saat-saat. Semoga gelisah ini karena iman, sehingga ada keterjagaan yang menenangkan serta baik sangka yang menggerakkan. Menunduklah diriku di saat takut  menatap, karena dalam takut dan tundukku, Allah senantiasa membersamai"

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku
Tak terasa empat tahun aku memendam rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaanku atau dirimu. Seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tidak acuh padamu. Saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal dan apa adanya walau perlu usaha untuk mencapainya.
Tahukah engkau wahai yang mampu melumpuhkan hatiku? Aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, walau mungkin aku teramat sakit saat mengetahui bahwa mungkin saja aku bukanlah mereka yang engkau cintai walaupun itu hanya sebagian dari prasangkaku. Jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan dan lonjakan yang membuatku semakin tidak mengerti.

Wahai engkau yang melumpuhkan hatiku,
Andai aku boleh berdoa kepada Allah, mungkin aku ingin meminta agar dia membalikkan sang waktu agar aku mampu mengedit saat-saat pertemuan itu - pertemuan yang tidak pernah kita sangka dalam waktu dan tempat yang sama -  hingga tak ada tatapan bersilang dengan pendengaran pertama itu yang membuat hati ini terus mengingatmu. Mencoba menerka-nerka dan meyakinkan hati ini, apakah benar itu dirimu. Jarang aku memandang wanita, namun satu pandangan saja mampu meluluhkan bahkan melumpuhkan hati ini. Andai aku buta, tentu itu lebih baik daripada harus kembali lumpuh seperti ini.
Banyak lembaran buku yang telah kutelusuri, banyak teman yang telah kumintai pendapat. Sebagian mendorongku untuk mengakhiri segala prasangkaku tentangmu, tentang dia, karena sebagian prasangka adalah suatu kesalahan, mereka memintaku untuk membuka tabir lisan ini juga untuk menutup semua rasa prasangkamu terhadapku. Namun di titik yang lain ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan rasa yang terlalu awal yang telah tertancap dihati ini dan membukanya saat waktu yang indah yang telah ditentukan itu (andai itu bukan suatu mimpi).

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku,
Mungkin aku bukanlah pejantan tangguh yang siap untuk segera menikah denganmu. Masih banyak sisi lain hidup ini yang harus ku kelola dan kutata kembali. Masih terdapat amanah besar yang menantiku untuk menujunya dan memberikan sebentar perhatianku padanya. Juga kamu wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kamu yang dengan halus menolak diriku menurut prasangkaku dengan alasan menyegerakan untuk menyempurnakan separuh iman. Sungguh aku tidak ingin menanggung beban ini yang akan berujung ke sebuah kefatalan kelak jika hati ini tak mampu kutata. Meskipun sedikit aku tersadar bahwa ada sesuatu yang mungkin tidak bisa untuk dipaksanakan. Ada ego yang sangat sulit untuk diluluhkan.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku,
Mungkin saat ini hatiku milikmu, namun tak akan kuberikan setitik pun saat-saat ini karena aku telah bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan kuberikan kepada bidadari-ku nanti. Tolong bantu aku untuk meraih bidadari-ku bila dia bukanlah dirimu. Tolong bantu aku untuk tetap bisa bertahan dalam keterjagaan serta penjauhan diri. Kadang aku bingung, apakah penjauhan ini merupakan jalan yang terbaik yang berarti harus mengorbankan ukhuwah diantara kita atau harus mengorbankan iman dan petuah suci hanya demi hal yang tampak sepele yang demikian itu.

Aku yang tidak mengerti diriku…
Ingin ku meminta kepadamu, sudikah engkau menungguku hingga aku siap dengan tegak meminangmu dan kau pun siap dengan pinanganku?! Namun wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kadang aku berpikir semua pasti berlalu dan aku merasa saat-saat ini pun akan segera berlalu, tetapi ada ketakutan dalam diriku bila aku melupakanmu…Aku takut tak akan pernah lagi menemukan dirimu dalam diri mereka-mereka yang lain. Karena bagiku tidak mudah untuk menemukan pasangan kunci yang dapat membuka kesucian hati dalam mihrab cinta sejati yang aku miliki. Perlu waktu yang mungkin akan menjadikanku terdiam dalam kekalnya keterjagaan.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku,
Ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita. Mungkin nanti saat dimana mungkin kau telah menimang cucu-mu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang tragis ini. Atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebahagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang.

Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku,
Mintalah kepada tuhan-mu, tuhan-ku, dan tuhan semua manusia akhir yang terbaik terhadap kisah kita. Memintalah kepada-Nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, memintalah kepada-Nya agar tetap menetapkan tawakal ini pada tempat yang selayaknya.


"Andai dapat kubaca catatan langit, Mungkin gundah ini takkan pernah ada, Maka kupasrahkan rasa dan asaku pada-Mu, Ya Rabb…
Karena aku milik-Mu"



 Dikutip dari berbagai sumber*

1 komentar:

Shofwah mengatakan...

Bagaimana kabarnya pak kadep?
Kemarin baru tahu cerita ttgmu dr *i** siapa yg kau maksudkan itu...hahahaiiy...
Judulnya ganti "wahai engkau yang pernah melumpuhkan hatiku".
Bersabarlah, kemenangan itu pasti akan tiba. Saat kau akan memenangkan hati seseorang yang benar-benar telah melumpuhkan hatimu atas nama nama-Nya...

Posting Komentar

 
Copyright 2009 Catatan Sang Penulis. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator