Senin, 13 Februari 2012

Naskah Lomba Essay Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) Dalam Rangka Memperingati Hari Sumpah Pemuda Tahun 2010


Pembangunan Berbasis Perikanan Melalui  Restrukturisasi  Mata Rantai Produksi dan Pemasaran Ikan : Analisis Inbound dan Outbound

Oleh :
Muh Ikhsan Hariadi[*]

Ada satu pertanyaan menarik di balik kehidupan nelayan di tanah air tercinta ini. Di tengah situasi di mana produksi tangkapan ikan dari tahun ke tahun terus meningkat, mengapa kebutuhan nelayan relatif  tetap stagnan dan bahkan dalam beberapa kasus justru mengalami degradasi. Apakah faktor-faktor yang melandasinya? Hal tersebut menimbulkan sebuah ironi yang sangat bagi kita semua karena bagaimana bisa, sebuah negeri dengan kekayaan laut yang begitu melimpah malah tidak memberikan kesejahteraan bagi para nelayan? Apa sebetulnya yang menjadi masalah? Tulisan berikut ini akan mencoba untuk menguraikan permasalahan tersebut secara lebih mendalam dan memberikan solusi aplikaif.
Nelayan, Nasibmu Kini
Bank Dunia memperhitungkan bahwa 108,78 juta orang atau 49 persen dari total penduduk Indonesia dalam kondisi miskin dan rentan menjadi miskin. Kalangan tersebut hidup hanya kurang dari 2 dollar AS atau sekitar Rp. 19.000,– per hari. Badan Pusat Statistik (BPS), dengan perhitungan yang agak berbeda dari Bank dunia, mengumumkan angka kemiskinan di Indonesia ‘hanya’ sebesar 34,96 juta orang (15,42 persen). Angka tersebut diperoleh berdasarkan ukuran garis kemiskinan ditetapkan sebesar 1,55 dollar AS. Namun, terlepas dari perbedaan angka-angka tersebut, yang terpenting bagi kita adalah bukan memperdabatkan masalah banyaknya jumlah orang miskin di Indonesia, tapi bagaimana menemukan solusi untuk mengatasi masalah kemiskinan tersebut.
Dengan potensi yang demikian besar, kesejahteraan nelayan justru sangat minim dan identik dengan kemiskinan. Sebagian besar (63,47 persen) penduduk miskin di Indonesia berada di daerah pesisir dan pedesaan. Data statistik menunjukan bahwa upah riil harian yang diterima seorang buruh tani (termasuk buruh nelayan) hanya sebesar Rp. 30.449,- per hari. Jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan upah nominal harian seorang buruh bangunan biasa (tukang bukan mandor) Rp. 48.301,- per hari. Hal ini perlu menjadi perhatian mengingat ada keterkaitan erat antara kemiskinan dan pengelolaan wilayah pesisir.
Kenyataannya sekarang adalah  bahwa  nelayan yang mendiami pesisir lebih dari 22 persen dari seluruh penduduk Indonesia justru berada di bawah garis kemiskinan . Selama ini mereka menjadi golongan yang paling terpinggirkan karena kebijakan dalam pembangunan yang lebih mengarah kepada daratan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008, penduduk miskin di indonesia mencapai 34,96 juta jiwa dan 63,47 persen % di antaranya adalah masyarakat yang hidup di kawasan pesisir dan pedesaan. Di sisi lain pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumberdaya kelautan dan pesisir selalu beriringan dengan kerusakan lingkungan dan habitat seperti terumbu karang dan hutan mangrove, dan hampir semua eksosistim pesisir Indonesia terancam kelestariannya.
Disamping itu, tekanan terhadap sumber daya pesisir sering diperberat oleh tingginya angka kemiskinan di wilayah tersebut. Kemiskinan sering pula memicu sebuah lingkaran setan karena penduduk yang miskin sering menjadi sebab rusaknya lingkungan pesisir, namun penduduk miskin pulalah yang akan menanggung dampak dari kerusakan lingkungan. Dengan kondisi tersebut, tidak mengherankan jika praktik perikanan yang merusak masih sering terjadi di wilayah pesisir. Pendapatan mereka dari kegiatan pengeboman dan penangkapan ikan karang dengan cyanide masih jauh lebih besar dari pendapatan mereka sebagai nelayan. Dengan besarnya perbedaan pendapatan tersebut di atas, sulit untuk mengatasi masalah kerusakan ekosistem pesisir tanpa memecahkan masalah kemiskinan yang terjadi di wilayah pesisir itu sendiri.

Problematika Proses Produksi dan Pemasaran Ikan Indonesia
Masalah yang dihadapi oleh sebagian besar nelayan dalam memasarkan produknya antara lain adalah produk belum standar dalam hal jenis dan ukuran; serta kondisi fisik dari produk belum memenuhi persyaratan mutu. Dengan masih adanya masalah tersebut, pengepul sebagai pembeli produk kadang kecewa dengan hasil panen yang dibeli karena tidak sesuai dengan klasifikasi udang yang diinginkan. Demikian pula, belum dikuasainya teknologi pasca panen dan kurangnya peralatan pengemasan dan transportasi untuk pengiriman jarak jauh, menyebabkan jangkauan pemasaran hasil produk masih terbatas atau hanya berorientasi lokal.
Disisi lain kedudukan nelayan dalam posisi tawar menawar juga sangat rendah. Ini mengakibatkan sebagian besar nelayan menjual hasil tangkapanya kepada tengkulak dengan harga yang kebanyakan dibawah harga yang sebenarnya atau dibawah harga pasaran. Salah satu penyebabnya adalah tidak semua daerah pesisir memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Sehingga mereka mudah ditipu.
Namun keberadaan TPI juga menjadi hal yang dilema. Di satu sisi, keberdaan TPI sangat diperlukan sebagai tempat untuk memasarkan hasil ikan, sehingga banyak sekali transaksi yang terjadi dengan efektif dan melalui mekanisme yang layak seperti pasar pada umumnya. Disisi lain retribusi yang terlalu tinggi menyebabkna nelayan untuk enggan masuk ke TPI dan menjual ikan langsung pada pedagang ikan, sehingga mereka sering kali di tipu. Ini merupakan hal yang harus kita selesaikan bersama dan mampu memberikan solusi terbaik untuk keberhasilan pembangunan perikanan di Indonesia.
Selanjutnya terkait masalah proses produksi yaitu hal yang berkaitan dengan operasional nelayan dalam melaut, terdapat permasalahan pelik yang harus segera diselesikan. Salah satunya adalah masalah  kenaikan BBM yang merupakan momok bagi nelayan, melihat tingginya ketergantungan mereka terutama pada jenis solar. Tidak adanya jaminan pemerintah untuk menambah alokasi bahan bakar minyak bersubsidi bagi nelayan dalam APBN Perubahan 2010, mengakibatkan ondisi nelayan Indonesia terancam semakin sulit. Kekurangan BBM subsidi bagi nelayan setiap tahun sekitar 1,2 juta kiloliter.
Nelayan selama ini selalu didera kesulitan BBM. Di sejumlah sentra nelayan, pasokan BBM bersubsidi masih langka. Jikapun tersedia, harga jual umumnya lebih mahal sehingga tak terjangkau nelayan. Padahal, kebutuhan BBM menghabiskan 40 persen dari biaya operasional. Jika sampan bermesin ukuran 5-12 PK membutuhkan rata-rata 10 liter solar sekali melaut, maka setiap sampan akan mengelurakan biaya Rp.21.000 dalam kondisi harga normal atau di pangkalan sebesar Rp.2100. Tetapi pada umumnya nelayan membeli harga solar Rp.25.00-27.000, karena tergantung pada tingkatan agen yang bermain di lapangan. Semakin banyak agennya maka semakin panjanglah rantai pasarnya dan semakin tinggilah harga solar sampai ke tangan nelayan. Harga tersebut ‘terpaksa” dibeli, untuk bisa melanjutkan hidup dengan melaut, meskipun dengan kondisi pas-pasan.
Selain itu, proses pemangkasan kekuatan rakyat pada masa orde baru, masih terasakan dengan melemahnya kearifan-kearfian lokal. Dulu, tradisi jamu laut di Sumatera Utara masih efektif terutama dalam hal pelarangan penangkapan ikan pada musim tertentu. Biasanya setelah jamu laut, dilarang pergi melaut selama beberapa hari, dengan demikian ada waktu pemulihan sumber daya ikan . Tak heran kalau sehabis jamu laut, dipercaya ada berkah laut dengan hasil tangkapan yang banyak. Sayangnya, semuanya itu tidak lagi seutuhnya terjadi hari ini, karena jamu lautpun sudah mulai pudar, dan hanya menjadi ritus-ritus belaka. Potret kemiskinan struktural terjadi karena negara sejak lama mengabaikan potensi bahari yang kaya raya ini sehingga hanya dikuasai segelinitir orang termasuk sebagain besar oleh kapal-kapal asing.

Analisis Inbound dan Outbound Dalam Rantai Produksi dan Pemasaran
Dalam kaitanya dengan proses produksi, nelayan akan menemui suatu sistem yang kompleks dimana elemen-elemen di dalamnya saling berinteraksi. Dalam sistem produksi perikanan yang kompleks ini tentunya banyak persoalan yang harus kita tanggulangi. Untuk menangani persoalan alam, sosial, ekonomi, dan politik yang tidak terstruktur kita perlu menyusun tahapan-tahapan dalam menyelesaikan persoalan tersebut dan perlu menetapkan tujuan kita dalam menyelesaikan persoalan tersebut.
Untuk meningkatkan hubungan dan kerja sama yang baik dalam rantai produksi yang dalam hal ini adalah kemampuan nelayan untuk memasarkan hasil tangkapanya , maka nelayan harus mampu menciptakan value chain. Penciptaan value chain ini erat kaitanya  dengan proses outbound.Proses outbound memberikan gambaran betapa pentingnya desain dan peren-canaan jaringan pemsaran dan fungsi yang bersifat strategis untuk menyalurkan produksi ikan sampai di tangan konsumen Proses pemenuhan keinginan konsumen akan semakin terpusat pada penwrana produk yang mampu meningkatkan nilai  jualnya. Nelayan dibantu dengan pemerintah harus mampu menciptakan keterkaitan yang erat antara nelayan, pengepul, penjual di TPI maupun konsumen. Jadi fokus pada lini ini adalah pada sistem distribusi dan penjualanya sampai ke tangan konsumen.
Dari sudut pandang inbound logistic, rantai pproduksi memiliki berbagai manfaat bagi organisasi diantaranya pengurangan biaya, integrasi supplier dalam pengambilan keputusan untuk mendorong inovasi ramah lingkungan (Bowen et al., 2001). Dalam kasus ini karena nelayan harus membina hubunan baik dan mampu mengintegrasikan diri dengan supplier yaitu laut sebagai penghasil ikan. Karena kondisi laut yang bergantung pada alam, maka nelayan juga harus memiliki rasa cinta dan kesadaran untuk melestarikan hasil laut. Tidak hanya memanen hasil, tetapi juga harus melakukan perbuatan yang mendukung pelestarian berkelanjutan terhadap kondisi laut dan hasilnya.

Langkah Aplikatif dalam Merestrukturisasi Mata Rantai
Sejak Juni 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mencanangkan program pembangunan perikanan yang terangkum dalam restrukturisasi perikanan, Perikanan dan Kehutanan (RPPK). Namun setelah program tersebut berjalan selama hampir lima tahun, para pemangku kepentingan (stakeholders) disektor perikanan, khususnya para nelayan, belum mampu merasakan manfaat dari program restrukturisasi perikanan tersebut alih-alih untuk tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan, restrukturisasi perikanan justru lebih banyak dinikmati kalangan industri dan pedagang.
Masyarakat nelayan tetap harus bergelut dengan kemiskinan dan termaginalkan di tengah kebutuhan hidup yang makin menjerat leher. Pasalnya, program restrukturisasi perikanan yang berjalan saat ini lebih difokuskan pada peningkatan hasil produksi (tangkapan) perikanan dalam rangka mengejar angka-angka pertumbuhan ekonomi. Banyak bukti menunjukkan, paket-paket program pengentasan kemiskinan bagi masyarakat nelayan pun lebih banyak berorientasi pada peningkatan produksi melalui stimulan modal usaha berbunga rendah daripada untuk tujuan pendistribusian kesejahteraan
Menyikapi kondisi nelayan yang semakin memprihatinkan tersebut , baik dalam hal produksi ikan maupun tingkat kesejahteraanya sanagt perlu dilakukan restrukturisasi proses yang telah berjalan sekarang. Ditambah lagi dengan analisis inbound dan outbound diatas,  maka dapat dilakukan langkah-langkah aplikatif diantaranya :
1.      Pemerintah, masyaraat dan nelayan harus mampu menciptakan keterpaduan dalam hal :
-          Keterpaduan sektor dalam tanggung jawab dan kebijakan.
-          Keterpaduan keahlian dan pengetahuan
-          keterpaduan masalah dan pemecahan masalah
-          keterpaduan lokasi, memudahkan dalam melakukan pendampingan, penyuluhan dan pelayanan (lintas sektor)
2.      Pemerintah dapat memaksimalkan penyaluran modal bagi para nelayan dengan menambah anggaran dan menjadikan perikanan sebagai program unggulan dan prioritas.
3.      Pihak kampus atau golongan cendekiawan lainya dapat memberikan bantuan pemikiran dan tenaga melalui dosen dan mahasiswanya dalam mendampingi para penerima modal tersebut serta memberikan bantuan teknologi bagi para nelayan untuk mengembangkan usahanya.
4.      Untuk masalah pemasaran, pemerintah dan kampus dapat secara bersama-sama mendirikan pusat informasi pasar yang bisa diakses oleh semua masyarakat
5.      Menyelaraskan kebijakan TPI dengan keinginan nelayan. Untuk menyikapinya terdapat dua alternatif :
-          Menghapus TPI, sehingga transaksi langsung dilakukan anatar nelayan dengan pedagang ikan      langsung
-          Tidak menghapu TPI, namun dengan syarat administrasi dan retribusi yang diminta kepada nelayan tidak terlalu tinggi
6.      Hal yang tidak kalah penting adalah perlunya dilakukan rehabilitasi lingkungan pesisir yang rusak. Jika hal tersebut dibiarkan, dikhawatirkan dapat berakibat selain semakin rusaknya lingkungan pesisir laut, sumber daya perikanannya juga akan semakin berkurang, padahal jumlah nelayan justru terus bertambah banyak. Pembinaan dan penyuluhan yang diberikan kepada nelayan harus disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga apa yang disuluhkan benar-benar bermanfaat dan bisa diaplikasikan.
Ada tiga parameter untuk mengukur keberhasilan pembangunan hasil perikanan berdasarak uraian diatas yaitu:
-          Kontinyuitas produksi
-          Kualitas hasil produksi yang dihasilkan menjadi baik
-          Kehidupan nelayan ikan yang sejahtera
Ketiga parameter tersebut harus mampu dicapai terutama untuk pemerintah sekarang. Kebijakan pembangunan harus mampu disinergiskan untuk mewujudkan tercapainya indikator-indikator tersebut diatas. Jika indikator tersebut sudah tercapai maka kondisi perikanan diIndonesia akan berangsung-angsunr membaik seiring dengan komitmen pemerintah, nelayan dan masyarakat sekitar
Jadi, harus disadari, saat ini yang diperlukan nelayan adalah adanya kesungguhan hati dari pemerintah untuk memebrikan proteksi atau perlindungan kepada nelayan agar mereka bisa lebih proposional dan lebih adil dalam memperoleh pembagaian margin keuntungan sesuai dengan hak-haknya. Jika, jamahan tenagntangan kekuasaan tengkulak tetap dibiarakan bercokol, niscaya nelayan akan teteap menjadi salah satu kelompok masyarakat yang tertinggal dari laju pembangunan.


Referensi :
Anonim. 2009.Revitalisasi Perikanan Untuk Kesejahteraan Nelayan.  Dikases dari http://www.bataviase.co.id/

Anonim. 2010. Kondisi Nelayan Indonesia Kian Memprihatinkan. Diakses dari http://www.akuindonesiana.wordpres.com/

Bowen, F.E., Cousins, P.D., Lamming, R.C., dan Faruk, A.C., (2001), Horses for courses: Explaining the gap between theory and practice of supply chain, Greener Management International, Autumn, 41-66.

Sudrajat, Ihwan. “Membangkitkan Kekuatan Ekonomi Nelayan”. Suara Merdeka, 13 Desember 2002.


[*] Mahasiswa Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Airlangga Surabaya NIM : 040710652 email : ikhsan.hariadi@yahoo.co.id

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2009 Catatan Sang Penulis. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator